Apa Kasus untuk Djarot?

0

AKTUALITAS.com: Politik  itu seperti cinta, tak ada yang pasti. Ada baiknya Anda tak mencintai pasangan dengan membabi buta, karena bisa jadi Anda akan membencinya suatu saat nanti. Dan sebaliknya, Anda juga tak perlu terlalu membenci pasangan karena suatu saat mungkin Anda akan mengharapkan cintanya.

Ketidakpastian itu juga terjadi di dunia politik. Tak ada lawan atau kawan abadi di politik, yang ada adalah kepentingan. Kepentingan untuk berkuasa. Ada estimasi untung rugi di sana. Dan ironisnya, apa pun caranya akan dilakukan demi menikmati tampuk kekuasaan yang menjanjikan setumpuk ‘kemewahan’.

Dalam politik, orang yang dulu berseberangan dan saling hujat, bisa tiba-tiba menjadi ‘teman setia’. Di lain sisi, orang yang di masa-masa merintis karir politik menjadi sahabat tak terpisahkan, tanpa disangka menjelma menjadi ‘si raja tega’ berdarah dingin yang siap menikam.

Semua juga sudah melek bahwa serangan terselubung untuk mengganjal seseorang maju sebagai calon pemimpin daerah sudah bukan rahasia lagi. Bahkan yang dilakukan tanpa ‘tedeng aling-aling’, terbuka, dan kasat mata seolah menjadi lumrah dilakukan. Tujuannya satu, menyingkirkan lawan politik yang mengadang jalan mulus menuju kursi jabatan.

Dan saat ini, ‘tragedi’ di panggung politik menuju kursi panas DKI 1 pun tergambar sempurna di depan mata warga ibu kota. Para ‘suporter’ di belakang para calon itu begitu beringas membela jagoannya. Apa pun bisa jadi ‘senjata’ untuk meluluhlantakkan dan menghancurkan pesaingnya.

Ahok, sang petahana ini menjadi ‘korban’ pertama ganasnya persaingan menuju kursi gubernur dengan tuduhan penistaan agama. Bertubi-tubi dia dibombardir hingga duduk di bangku terdakwa.

Dan sekarang Anies pun mulai digoyang dengan tuduhan korupsi di Kementerian Pendidikan dalam kasus yang terjadi dua tahun yang lalu. Usut punya usut, ternyata proyek tersebut diketuk sebelum Anies resmi menjabat sebagai menteri.

Seolah tak puas hanya menggiring Anies, Sandiaga pun ‘digarap’ dengan kasus penggelapan uang dan pencemaran nama baik yang terjadi empat tahun silam. Terkesan mendadak memang, tapi tak apalah, yang penting digoreng dulu, masalah berhasil atau tidak, itu urusan belakang.

Dan sampai detik ini, yang masih ‘bersih dari noda’ adalah Djarot. Meskipun dia juga tak bisa melenggang santai karena terimbas kasus Ahok, politisi PDIP ini masih boleh dikatakan belum tersentuh kasus hukum yang mungkin saja akan dijeratkan padanya.

Sebenarnya sudah ada kasus yang ‘disiapkan’ untuknya, yaitu masalah nama wifi Al Maidah. Tapi bukan Djarot yang mengatakannya, dia cuma figuran yang ‘tertawa’ saat Ahok mengusulkan nama itu. Jadi, mungkin Djarot tak terlalu merisaukannya. Namun sekali lagi, tak ada yang tak mungkin, di politik segalanya bisa terjadi.

Publik tentu ‘harap-harap cemas’ menunggu dan bertanya-tanya, kira-kira kasus apa yang akan ditudingkan kepada mantan Wali Kota Blitar dua periode dan anggota DPR RI periode 2014-2019 itu. Ini tentu menjadi fase penantian yang ‘ngeri-ngeri sedap’ bagi sebagian kalangan.

Karena politik adalah citra, maka hal itulah yang diserang, mumpung mayoritas kita masih awam dengan asas praduga tak bersalah. Yang penting, dicolek dulu walau belum pasti polisi hanya hobi main perkara. Toh ada pula polisi yang mencolek hanya untuk mengajak ngobrol sembari ngopi di warung Mba Yani.

Komentar

Share.