Buruh Tolak Pekerja Asing Masuk ke Indonesia

0

Seorang buruh memegang spanduk bertulisan "TKA Wajib Berbahasa Indonesia" sebagai syarat bekerja di Indonesia saat mengikuti aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (1/9). Aksi ribuan buruh dari berbagai elemen itu menuntut pemerintah mengeluarkan regulasi untuk melindungi buruh , perbaikan kesehatan serta jaminan Hari Tua. (Foto: Kiki Budi Hartawan/aktualitas.com)

Seorang buruh memegang spanduk bertulisan “TKA Wajib Berbahasa Indonesia” sebagai syarat bekerja di Indonesia saat mengikuti aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (1/9). Aksi ribuan buruh dari berbagai elemen itu menuntut pemerintah mengeluarkan regulasi untuk melindungi buruh , perbaikan kesehatan serta jaminan Hari Tua. (Foto: Kiki Budi Hartawan/aktualitas.com)

AKTUALITAS.com: Buruh menolak masuknya tenaga kerja asing yang belakangan banyak masuk ke Indonesia secara mudah tanpa kualifikasi kemampuan berbahasa Indonesia.

Tenaga Kerja Asing (TKA) jangan sampai menggilas buruh lokal,” kata Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal di Jakarta, Selasa.

Salah satu tuntutan para buruh itu, kata Said, akan disampaikan kepada pemerintah dengan diawali aksi demonstrasi terlebih dahulu di sejumlah titik di Jakarta Pusat seperti area Patung Kuda, Istana Merdeka dan lokasi ibu kota penting lainnya.

Unjuk rasa kali ini merupakan gabungan dari sejumlah elemen organisasi buruh seperti KSPI, KSPSI dan KSBSI.

Selain menolak TKA, kata Said, buruh juga mengajukan sejumlah tuntutan penting seperti desakan agar pemerintah menurunkan harga BBM dan sembako.

Buruh juga menolak pemutusan hubungan kerja (PHK) massal oleh sektor industri akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nuwa Wea mengatakan masalah ekonomi nasional sangat merugikan buruh.

Melemahnya rupiah dan perlambatan ekonomi Indonesia, kata Andi, membuat sejumlah industri melakukan efisiensi dengan merumahkan sejumlah karyawan pabrik.

Banyak pabrik, kata dia, yang kesulitan mendapatkan komoditas bahan baku yang murah karena didatangkan dengan jalan impor dan pembayarannya menggunakan dolar AS.

Sementara perlambatan ekonomi, lanjut Andi, juga dipicu oleh lemahnya rupiah.

“Kalau produk mahal, masyarakat tidak akan mampu beli dan otomatis barang produksi pabrik tidak ada yang beli,” kata dia.

Komentar

Share.