Dinamika di Pilkada Sumut , Siapa Unggul?

0

AKTUALITAS.com: Pertarungan Pilkada Sumatera Utara diprediksi bakal berlangsung ketat. Berdasarkan informasi terbaru yang dihimpun IndependensI.com terdapat tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung di Pilkada Sumut 2018. Adapun ketiga pasang calon tersebut masing-masing pasangan Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah, pasangan Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus dan pasangan JR Saragih – Ance Selian.

Pasangan Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah didukung oleh koalisi Partai Golkar (17 kursi), Gerindra (13 kursi), PKS (9 kursi), PAN (6 kursi) dan Nasdem (5 kursi) dan total pendukung 50 kursi. Pasangan Djarot Saifil Hidayat – Sihar Sitorus didukung koalisi parpol PDI-P (16 kursi), Hanura (10 kursi), dan PPP (4 kursi) atau total dukungan 30 kursi. Sedangkan pasangan calon JR Saragih-Ance Selian didukung parpol Partai Demokrat (14 kursi), PKPI (3 kursi), dan PKB (3 kursi) atau total dukungan 20 kursi.

Prediksi tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang bertarung di Pilkada Sumatera Utara (Sumut) masih ada kemungkinan berubah karena sikap pragmatisme partai-partai politik ada saat ini. Ada kemungkinan dalam Pilkada Sumut ini hanya dua pasangan calon, sekiranya ada lagi partai yang tidak konsisten dengan dukungannya saat ini. Semua masih mungkin berubah hingga detik terakhir pendaftaran calon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) tanggal 8 Januari hingga 10 Januari 2018.

Dari tiga pasang calon yang ada saat ini, baru pasangan Edy Rahmayadi-Rajekshah yang paling solid karena sudah mempersiapkan diri sejak lama. Poster-poster kandidat ini juga sudah bertebaran di hampir semua pelosok di Sumatera Utara. Ketika pasangan lain masih berdebat soal elektabilitas, mencari figur atau repot mempertimbangkan pasangan yang paling ideal, Edy Rahmayadi-Rajekshah sudah jauh melangkah.

Atas dasar itu pula ada suatu keyakinan di Sumut bahwa pasangan Edy-Rajekshah seperti di atas angin. Bisa satu putaran dan yakin menang. Itu sah-sah saja. Edy Rahmayadi berlatar belakang militer dan jabatan terakhir Pangkostrad. Edy Rahmayadi piawai sebagai  pemimpin di pasukan  TNI, sekarang mencoba mengadu nasib untuk menjadi pemimpin rakyat Sumut.  Wakilnya  pengurus Ormas Pemuda Pancasila yang memiliki jaringan kepemudaan.

Hal itu pula yang membuat Edy Rahmayadi mantab meninggalkan segala godaan jabatan mulai dari Pangkostrad, KSAD hingga Panglima TNI. Dalam berbagai kesempatan, Edy Rahmayadi juga mengatakan bahwa optimistis memenangkan Pilkada Sumut karena didukung oleh sejumlah elemen masyarakat di Sumatera Utara. “Kalau tokoh-tokoh sudah meminta dari berbagai suku, agama dan elemen lainnya, saya tidak bisa menolak,” kata Edy Rahmayadi.

Djarot dan Sihar Sitorus

Perihal pasangan Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus baru mencuat kepermukaan sekitar dua minggu terakhir, tepatnya akhir Desember 2017 lalu. Popularitas Djarot Saiful Hidayat bisa menjadi daya tarik untuk merebut suara masyarakat Sumut. Djarot Saiful Hidayat diutus ke Sumut oleh PDIP karena Sumut membutuhkan orang bersih, jujur, simpatik dan mengetahui apa yang dibutuhkan untuk membangun Sumatera Utara.

Ada kesan seolah-olah Djarot Saiful Hidayat memburu kekuasaan. Padahal itu merupakan kebijakan partai yang harus siap ditugaskan di mana saja. Sama seperti organisasi TNI atau pemerintah, di mana harus siap ditugaskan di mana saja. Ada yang berpendapat bahwa seharusnya putra daerah, tetapi sebagian dari peserta yang ikut juga tidak murni putra daerah.

Tapi penilaian  itu sah-sah saja. Biarkan Djarot Saiful Hidayat akan membuktikan bahwa tekad pengabdian kepada masyarakat Sumut menjadi tujuannya. Hal itu telah dia buktikan  ketika Djarot menjadi Wakil Gubernur dan Gubernur di DKI Jakarta, di mana yang dia mengedepankan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara di atas segalanya. Masyarakat  bisa melihat kinerja pembangunan di masa kepemimpinanya di Blitar maupun di DKI Jakarta.

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak ada kemajuan pembangunan di Sumut karena pemimpinnya banyak tersandung korupsi. Djarot Saiful Hidayat yang memiliki pengalaman memimpin di Blitar dan DKI Jakarta diharapkan bisa memajukan Sumut. Apalagi dipasangkan dengan anak muda yang pintar, kaya dan cemerlang Sihar Sitorus, putra pengusaha Darius Longguk Sitorus (DL Sitorus). Perpaduan kedua calon pemimpin ini dinilai mampu merebut suara di Sumatera Utara yang haus akan kemajuan pembangunan daerah dan kesejahteraan bagi rakyat.

Akan halnya pasangan JR Saragih – Ance Selian diyakini mampu memenangkan Pilkada Sumut. JR Saragih Bupati Simalungan, sedangkan Ance Selian merupakan Ketua DPD Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumut. JR Saragih sejak jauh hari sudah sangat populer dan digadang-gadang menjadi calon gubernur Sumut. Prestasinya tidak perlu diragukan karena mampu memajukan daerah Simalungun yang sebelumnya kerdil.

Bupati Simalungan itu memiliki segudang prestasi yang sangat cemerlang dan menjadi salah satu Bupati membanggakan di Sumut dibandingkan dengan bupati-bupati lainnya. Intinya, JR Saragih sangat populer. JR Saragih juga meraih beberapa kali penghargaan atas keberhasilannya memajukan Kabupaten Simalungan. Atas dasar itu, kemampuan dan kapasitasnya tidak perlu diragukan membangun Sumut.

Meski demikian, apakah JR Saragih-Ance Selian tetap dimajukan partai pangusung, waktu juga yang akan menentukan. Sebab, sekali lagi partai politik masih sangat pragmatis. Yang penting calon diusung memenangkan pertarungan, tidak peduli kader atau bukan kader yang diusung,  sejalan atau tidak dengan visi misi  partai, yang penting menang.

Pilkada Sumut diperkirakan akan berlangsung ketat, apakah dua atau tiga pasang calon yang maju. Diprediksi bisa dua putaran Pilkada apabila tiga pasang yang maju. Ada yang berpendapat bahwa apabila tiga pasang calon yang maju, maka pasangan Edy Rahmayadi-Rajekshah di atas angin, karena mereka punya kader loyal.

Namun sekarang zaman sudah berubah dan masyarakat lebih realistis dan lebih cermat dalam memilih pemimpin. Kehadiran Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus tidak bisa dianggap enteng. Djarot Saiful Hidayat bukan pemburu kekuasaan, tetapi ditugasi partai dan akan menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat.

JR Saragih dan Ance Selian

Hal yang sama juga berlaku dengan pasangan JR Sarragih-Ance Selian. Wakil JR Saragih Ance Selian yang keturunan Aceh selama ini kurang terkenal, namun pasti ada petimbangan khusus kenapa dipilih oleh Demokrat dan partai pengusung lainnya. Dan hal itu tidak bisa dipandang enteng. Bumi berputar dan segala sesuatu bisa terjadi.

Contoh kasus ketika Pilkada DKI Jakarta. Pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dianggap sebagai peserta penghibur, karena populernya pasangan Ahot-Djarot dan pasangan Agus Harimurti-Silviana Murni ketika itu. Semua orang yakin bahwa pada putaran kedua yang maju adalah Ahok-Djarot dan Agus Harimurti-Silviana Murni. Tapi fakta berkata lain, meskipun Pilkada DKI bukan sesuatu yang membanggakan karena ada faktor yang tidak sehat dalam fakta lapangan.

Politik selalu penuh dengan kejutan, hal serupa juga bisa terjadi di Sumut. Terbukti dalam beberapa hari terakhir ini begitu banyak kejutan. Masyarakat Sumut sudah sangat cerdas dan mampu melihat realitas dan tidak mungkin mau dibohongi lagi.

Masyarakat akan jeli dan menelisik calon pemimpinnya. Apakah calon pemimpin yang disodorkan sekedar figur yang kuat dan popular, pemburu kekuasan belaka ataukah pemimpin yang pekerja keras, punya niat tulus untuk membangun dan memajukan daerah dan mensejahterakan masyarakat Sumatera Utara. Berani dan mampu membersihkan korupsi yang marak selama ini?

Telitilah sebelum bertindak untuk memilih pemimpin. Siapa sesungguhnya pemimpin yang mumpuni untuk Sumut, bukan sekedar penampilan dan pandai berkata-kata. Mengutip pidato  Deng Xiaoping, pemimpin China yang kesohor itu mengatakan:  tidak penting kucing hitam atau kucing putih, yang penting pandai menangkap tikus. Artinya pandai memilih yang baik. Anda pilih siapa? (sumber kbn/independensi)

Komentar

Share.