Ini Zaman Edan, Gitu Aja kok Repot

0

AKTUALITAS.com: Di sebuah gerbang perumahan pinggiran Jakarta, tertempel sebuah pamflet bertuliskan ‘Seribu Soekarno tak akan mampu membangun Indonesia kalau kalian ribut melulu’ dengan huruf besar dan mencolok mata. Sebuah ironi yang menohok telak di ulu hati.

Dan masihkah ingat dengan ungkapan ‘Gitu aja kok repot’ yang sangat melegenda dan pernah menjadi headline media massa di zaman Gus Dur dulu? Atau pernah lihat gambar Pak Harto dengan senyum tipisnya yang menawan dengan bumbu anekdot menggelitik ‘Isih penak jamanku to?’

Sepertinya, ketiga ungkapan di atas menjadi sangat ‘klop’ jika dikomparasikan dengan situasi terkini yang sedang menggoyang panggung kekuasaan di Indonesia.

Indonesia memang tengah dirundung sejumlah masalah yang mengangkangi akal sehat dengan ‘teriakan-teriakan’ yang memekakkan telinga. Seolah tak ada habisnya ‘orang-orang pintar’ di negeri ini saling serang dan menjelma menjadi ‘pahlawan-pahlawan’ dan tampil bak pendekar bagi kepentingan sekelompok, bahkan segelintir orang.

Tentu, itu semua menjadi pekerjaan rumah yang tak sepele bagi mereka -orang-orang yang benar-benar tulus- ingin membangun peradaban Indonesia dengan mengakomodasi kemajemukan yang sejatinya merupakan fitrah yang telah digariskan untuk negeri ini. Dan tentu saja, itu semua jelas menguras energi bangsa yang rindu hidup dalam damai yang menyejukkan.

Mari coba kita tengok kasus dugaan upaya makar yang dilakukan oleh sejumlah orang, ujaran kebencian yang kian masif di medsos, tuduhan gambar ‘palu arit’ di uang rupiah baru dan ornamen sebuah hotel -ini sungguh tuduhan yang sangat naif-, lalu kasus penistaan agama yang memicu demo lautan manusia di ibu kota, menyusul kemudian bentrokan plus gontok-gontokan antar-ormas, dan masih banyak lagi kalau saja saya tak letih menuliskannya.

Dan dari semua itu, tak seluruhnya -kalau tak boleh dibilang tak satu pun- yang bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat Indonesia yang ratusan juta jumlahnya. Para pihak yang bertikai mengklaim mewakili rakyat, pertanyaannya, rakyat bagian mana yang sedang kau wakili itu, teman?

Lupakah kita bahwa bangsa ini punya cara yang bermartabat untuk menyelesaikan setiap masalah yang muncul dalam skala apa pun dan di mana pun? Itu adalah demokrasi Pancasila yang bahkan telah diamanatkan oleh Undang-Undang. Demokrasi yang mengedepankan asas musyawarah dan mufakat yang menganjurkan keseimbangan antara hak dan kewajiban sehingga akan memunculkan kepastian hukum dan keadilan bagi seluruh warga negara.

Alih-alih duduk bersama dan berbicara dari hati ke hati, kita malah lebih memilih untuk saling tuduh, saling serang, saling menjatuhkan, dan ujung-ujungnya adalah saling lapor. Dan polisi -yang tugas utamanya mengayomi rakyat itu- pun dibanjiri laporan yang tak tahu sampai kapan akan berakhir.

Jadi wajar saja kalau kemudian ada yang nyeletuk, ‘Gitu aja kok repot’, atau ‘Isih penak jamanku to?’

Sesungguhnya kalau saja setiap kita mau sedikit saja berlapang hati menghadapi setiap gesekan dan masalah dengan kepala dingin, mungkin juga tak perlu ada ‘seribu Soekarno’ untuk membangun Indonesia yang damai.

(SAM)

Komentar

Share.