Kalijodo, Tak Salah Namun Masalah

0

AKTUALITAS.com: Kalijodo, demikian nama salah satu daerah di Kelurahan Angke, Jakarta Barat itu disebut. Kawasan itu dikenal sebagai salah satu tempat hiburan malam di Jakarta. Konon, nama Kalijodo diambil berdasarkan kebiasaan penamaan warga Jakarta tempo dulu.

Pada kawasan itu, memang ada sebuah kali (sungai) yang kerap dijadikan tempat pacaran bagi muda-mudi dan berujung pada perjodohan.

Kawasan Kalijodo meliputi lima rukun enam rukun tetangga di kelurahan Pejagalan, Kecematan Penjaringan. Kawasan Kalijodo didominasi dengan pemukiman kumuh.

Kalijodo sekarang dikenal sebagai salah satu tempat destinasi para ‘pelampias’ hasrat. Ya, sudah menjadi rahasia umum bila kawasan Kalijodo dikenal sebagai sarang prostitusi.

Akademisi Universitas Indonesia, I Ketut Suardana, dalam tesisnya menulis bahwa lokasi pelacuran Kalijodo sejak sejak tahun 1950 di mana saat itu dimulai dari kehadiran orang-orang Tionghoa untuk melakukan tradidi ‘Cungbeng’ di sana.

Hal itu mengundang daya tarik untuk berkunjung dan sambil memancing ikan di Kali Banjir Kanal yang airnya bersih dan jernih sekaligus dimanfaatkan oleh orang-orang untuk mencari jodoh.

Dalam rentang waktu 1950-an sampai tahun 1991. Lokasi di sekitar kali Banjir Kanal berdiri rumah-rumah tempat tinggal dan rumah atau wisma bagi para wanita tuna susila (WTS).

Ujungnya, pada tahun 1992, dilakukan penggusuran oleh pihak pemerintah daerah yang membuat lokasi pelacuran Kalijodo ‘dikonsentrasikan’ pada kawasan yang terletak di sebelah timur Kali Banjir Kanal dengan nama Jalan Kepanduan Dua. Tak main-main, sebagai lokasi pelacuran di pemukiman kumuh liar. Kawasan Kalijodo khususnya di lingkungan RW 05 ada 195 pelacur terikat dan 250 Pelacur bebas (Freelance).

Mafia Lokal

Pada tahun 2002, perwira polisi bernama Krishna Murti pernah mendapat tugas di Sektor Penjaringan sebagai Kepala Polisi Sektor. Di sana, ia mendapati sebuah kawasan yang sudah –dan berpotensi meluas– menjadi sarang mafia.

Tawuran menjadi sarapan sehari-hari di kawasan tersebut. Banyaknya kelompok daerah serta geng-geng yang terbentuk di kawasan tersebut, membuat Kalijodo, selain tempat prostitusinya, juga dikenal sebagai biangnya tindak kekerasan.

Peristiwa 22 Februari 2002 yang ditulis Harian Kompas misalnya. Ratusan rumah hangus terbakar akibat ulah oknum. Diduga, Kalijodo membara lantaran perseteruan antargeng yang tak ada habisnya.

Krishna, yang belum berpangkat Komisaris Besar saat itu, mengungkapkan bahwa model ‘kekuasaan’ di Kalijodo mirip dengan cara kerja mafia.

Harian Kompas Kala itu mengupas Kalijodo sebagai kawasan yang penuh kekerasan. Tak heran, di tengah pusara Judi dan Prostitusi, kehadiran geng ‘penjaga keamanan’ memang tak terelakan.

Berdasarkan keterangan Krishna kala itu, terdapat lima bos besar di kawasan tersebut, yakni Riri yang bergandengan dengan Agus, H Usman, Aziz, Bakri, dan Ahmad Resek. Mereka mengaveling Kalijodo sebagai daerah kekuasaan mereka.

Menurut Krishna Murti, para bos itu tidak mengelola perjudian. Mereka hanya menyediakan tempat dan menerima sewa dari operator judi yang adalah etnis Tionghoa sekaligus menjamin keamanan berlangsungnya perjudian. Artinya, tidak akan diganggu oleh siapa pun, aparat, apalagi organisasi massa.

Sebuah Masalah

Dalam beberapa tahun belakangan suasana Kalijodo mulai ketar-ketir. Rasa takut kena gusur menyentuh hampir semua penghuni. Tidak hanya para pelacur tetap penghuni rumah bordil tetapi juga para pelacur lepas (freelance). Para pemilik rumah bordil, muncikari, germo, calo, pekerja, pengusaha kafe, pedagang, dan ribuan penghuni rumah di sepanjang kali ikut ketakutan.

Pemprov DKI Jakarta sejak akhir tahun lalu sudah memikirkan cara bagaimana agar bisa masuk membersihkan Kalijodo. Sampai saat ini masih ada sekitar 100 bangunan khusus untuk usaha bisnis esek-esek.

Pemprov DKI Jakarta sudah mulai gencar mempublikasikan rencana penggusuran.  Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, setiap ditanya wartawan tentang Kalijodo jawabnya selalu konsisten: “Bersihkan. Jangan ada lagi perempuan (Pekerja Seks Komersial) yang mangkal di sana. Jangan ada bangunan liar,”

Ahok memang telah melihat potensi masalah akibat kehadiran Kalijodo. Momentum bersambut, belum lama ini, sebuah mobil Fortuner milik seorang mahasiswa mengalami kecelakaan di Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat. Peristiwa kecelakaan itu menyebabkan empat nyawa melayang.

Usut punya usut, pengemudi Fortuner maut tersebut ternyata sempat mampir ke Kalijodo sebelum akhirnya menabrak sepeda motor suami istri Zulkafi Rahman (28) dan Nuraini (24). Pasangan suami istri itu tewas di tempat, dua orang korban tewas lainnya merupakan penumpang mobil Fortuner yang usai menabrak sepeda motor kemudian terbalik di trotoar jalan lantaran kehilangan kendali.

Penyelidikan polisi berkesimpulan, si sopir Fortuner Ricky Agung Prasetyo, diduga mabuk dan kehilangan kendali. Hal itu diperkuat dengan keterangan salah seorang penumpang Fortuner bernama Riska Rahmawati (24) yang menyebut ia bersama teman-temannya –sebelum kecelakaan– sempat mampir ke Kalijodo untuk bersenang-senang.

“Kami semuanya sempat menenggak 10 botol bir,” kata Riska Rahmawati (20) seperti dikutip Kriminalitas.com, Senin (8/2).

Hal ini pun mendapat perhatian dari Ahok. Wacana penertiban Kalijodo kembali mencuat. Ahok tidak sendirian, Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian siap membantu Ahok untuk menertibkan ‘sarang penyakit masyarakat itu’.

Namun, wacana penertiban itu tentu akan mendapat rintangan yang tidak mudah. Pasalnya, berdasarkan laporan wartawan Wartakota.com, Panji Bhaskara, warga Kalijodo siap melakukan perlawanan terhadap wacana penggusuran itu.

“Di sini jangan macam-macam, Mas. Warganya penjahat semua di sini. Saya ngasih tahu aja. Ahok nggak bakalan berhasil injak wilayah sini. Yakin, saya,” kata Maman (34), salah seorang warga di Jalan Kepanduan II, atau tepatnya di kolong Tol Kalijodo, Selasa (9/2/2016).

Menurut Maman, rata-rata preman yang mengawasi kawasan Kalijodo merupakan penjahat kambuhan yang sudah berkali-kali masuk keluar penjara.

“Sekali ngamuk bisa bahaya. Mending Ahok pikir-pikir dulu. Warga di kolong Tol Kalijodo, belum lagi di seberangnya yang ada klub sama pub dijadikan hunian juga, itu bisa pada ngamuk.” terangnya.

“Belum lagi preman bisa kehilangan uang reman. Belum PSK-nya yang pastinya bisa kehilangan pekerjaan kalau ada keributan,” tegasnya.

 

Komentar

Share.