Menjadi Eksportir Karena Belut

0

AKTUALITAS.com: Bekerja sebagai buruh migran di Jepang selama tiga tahun telah membuka mata Yudik Prianto (35), pria asal Wonosobo, Jawa Tengah, mengenai peluang bisnis budidaya ikan belut sidat.

Bermodal pengalaman secara otodidak dari seorang rekan di Negeri Sakura, Yudik membulatkan tekat menjadi wirausaha si “emas lunak” ketika kembali ke Tanah Air pada 2009.

Kini, bersama ratusan petani binaannya, ia berhasil menyuplai hingga 3 ton ikan sidat ke Jepang setiap bulan dengan harga Rp400 ribu/kg.

Namun, keberhasilan ayah dua anak ini bukan semudah membalik telapak tangan.

Jalan berliku harus dilalui bersama dua anak dan istrinya, hingga suatu hari sebagai kepala keluarga, ia tidak mampu membeli beras karena kehabisan uang.

“Itulah titik klimaksnya, tapi semua perjuangan itu kini sudah terbayarkan,” kata Yudik yang dihubungi dari Palembang, Sabtu (14/12) Yudik bekerja di Jepang karena terpilih menjadi salah seorang peserta program latihan kerja Disnaker Jawa Tengah.

Bersama sekitar 160 orang, ia yang saat itu berusia 26 tahun dan sudah menikah dengan dua anak, bekerja di pabrik otomotif Honda.

Niat awalnya ketika itu, ingin mendapatkan modal usaha karena pendapatan sebagai buruh di Jepang terbilang besar, sementara peluang untuk bekerja di tanah kelahiran belum juga muncul.

Sebagai pekerja, Yudik mendapatkan libur setiap Sabtu dan Minggu, dan waktu ini dimanfaatkannya untuk belajar bidang pertanian dan perikanan dengan penduduk lokal.

Di sinilah awal perkenalan pria kelahiran Ngajuk, Jawa Timur, 29 Februari 1980, ini dengan ikan belut sidat.

Ternyata, Negeri Sakura membutuhkan sekitar 300 ribu ton sidat per tahun untuk kuliner khas unagi kabayaki yakni makanan berbahan ikan sidat panggang.

Lantaran makanan ini sangat digemari, tidak mengherankan bila harga sidat terbilang tinggi yakni berkisar Rp120 ribu per ekor dengan berat sekitar 250 gram.

Mengamati peluang ini, Yudik bersemangat belajar budi daya sidat dari peternak lokal. Gurunya pun meminta dirinya untuk menerapkannya di Indonesia karena dari 13 jenis sidat di dunia, terdapat sembilan jenis yang hidup di perairan Indonesia.

“Sebagai jaminan, guru saya ini bersedia menjembatani jika ingin mengekspor ke Jepang,” kata Yudik.

Berkat jaminan permintaan, dan dorongan kuat sang istri tercinta Siti Suprihatin yang juga berakitivitas sosial di Dompet Dhuafa, Yudik semakin yakin untuk menjadi wirausaha.

Ia berpendapat bahwa jalur ini yang akan membawanya bermanfaat bagi lingkungan.

Namun, untuk menjalankannya bukan pekerjaan mudah karena perlu dilakukan uji coba untuk mendapatkan formula ideal agar ikan sidat ini bisa bertahan hidup di Indonesia yang memiliki dua musim (Jepang dengan empat musim).

Periode ini menjadi yang terberat dalam perjalanan hidup Yudik bersama keluarga karena dalam masa dua tahun uji coba itu, ia sama sekali tidak memiliki pekerjaan dan hanya memanfaatkan uang simpanan hasil perolehan selama di Jepang yakni sebesar Rp250 juta.

Bermodalkan uang itu, Yudik membeli lahan di dekat kawasan sawah sekitar 1.000 meter untuk membuat petak-petak kolam, dan membangun rumah tempat tinggal seadanya.

“Tahun pertama itu yang paling berat, tanpa mata pencarian sementara keluarga butuh makan. Kacau pokoknya, apalagi belum juga mendapatkan formulanya, sampai-sampai saya tidak bisa beli beras,” kenang Yudik.

Untuk tetap bertahan hidup selagi terus beruji coba, Yudik membudidayakan cacing dan belut untuk dijual di toko pancing dan pasar.

Sementara itu, istrinya tetap dengan aktivitas sosialnya yakni menjadi guru bahasa Inggris secara sukarela.

Lulusan D2 AMNI Semarang ini juga mencobakan budi daya sidat di tempat lain yakni di pesisir Cilacap, atau berjarak tempuh sekitar 100 km kediamannya karena di tempat itu juga sempat ada budi daya sidat, namun gagal.

Awalnya, bagaimana mendapatkan media hidup bagi sidat seperti aslinya yakni airnya tetap bersih tapi tidak boleh beratap supaya tetap nyaman.

Ikan bernama latin Anguilla spp ini tidak boleh terpapar terlalu banyak cahaya matahari karena nanti bisa katarak.

Akhirnya ia menemukan media instant yang cocok untuk ikan sidat yakni terbuat dari jerami, gedebok pisang, dan pupuk kandang yang diramu secara khusus melalui proses fermentasi.

Fermentasi pertama dilakukan selama 1-2 minggu dengan bantuan bakteri, sedangkan fermentasi kedua melibatkan peran bakteri dan cacing untuk mempercepat penguraian.

Lalu media instan dicampurkan tanah dan dimasukkan ke kolam sidat.

Melalui teknik ini, ikan sidat memiliki tempat berlindung pada siang hari dari terpaan terik mentari sehingga bisa hidup lebih tenang karena suhu lebih stabil, dan intensitas cahaya yang tidak menyilaukan.

Tak hanya sebatas media instant, Yudik juga harus menemukan alat tangkap yang cocok agar sidat tetap hidup ketika diangkat dari kolam. Setidaknya, hampir 500 alat tangkap yang dicobakannya.

“Ikan sidat ini, jika terkena rangsangan benda kasar maka akan mengeluarkan lendir. Jika sudah begini maka cepat mati, sampai akhirnya saya menemukan paralon karena teksturnya lembut,” kata peraih penghargaan inovasi terbaik Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2012.

Ekspor ke Jepang Setelah berjuang keras selama dua tahun, akhirnya usaha Yudik ini membuahkan hasil dengan mampu memenuhi permintaan ekspor hingga tiga ton per bulan dengan harga unagi Rp400 ribu per kg. .

Keberhasilan Yudik ternyata mendorong warga lainnya untuk berbudi daya sidat sehingga dibawah bimbingannya mampu berkembang pula di Mojokerto, Paicitan, dan Ngawi.

Bersama perkumpulan Kelompok Pembudidaya Ikan Berkah Mina Mukti di Selomerto, Wonosobo, Jawa Tengah, ia telah berhasil menjadi motor penggerak bagi ratusan warga sekitar untuk menghasilkan produk olahan ikan sidat (unagi) layak ekspor.

Dalam satu hari, peternak mendapatkan sekitar 1 hingga 2 kg ikan sidat dari kolam 3×3 meter dengan harga jual Rp100—Rp200 ribu per kg.

Untuk lebih memastikan permintaan, hasil yang diperoleh peternak ini sudah ada yang menampung yakni sebuah perusahaan rekanan Yudik yang fokus pada ekspor sidat ke Jepang.

Perkenalan Yudik dengan pemilik perusahaan ini melalui sebuah pertemuan istimewa sebagai sama-sama penggiat budidaya sidat.

“Pemilik ini bercerita bahwa selalu gagal melakukan budi daya sidat, tapi memiliki modal. Setelah berunding, akhirnya ada kesepakatan bahwa saya bagian menyediakan bahan baku, dan dia bagian investasi pabrik untuk pengolahan agar barang yang dikirim layak ekspor ke Jepang,” kata dia.

Sehingga, setelah tiba di Jepang, harga sidat yang masih hidup dihargai Rp300 ribu, sementara jika sudah menjadi daging panggang yang vakum (unagi) dihargai Rp450 ribu.

Namun, belakangan, perusahaan lebih memilih unagi karena jika mengirimkan ikan sidat dalam kondisi hidup maka terdapat aturan yang ketat di Jepang seperti berat per ekor harus 250 gram.

Setelah meraup kesuksesan, Yudik ingin menelurkan ilmunya ke masyarakat luas. Namun, beragam kesulitan dihadapinya, terutama untuk menyakinkan masyarakat mengingat dibutuhkan investasi yang cukup besar yakni Rp7 juta selama enam bulan untuk membuat kolam, benih, dan pakan.

“Masyarakat itu ingin investasi rendah keuntungan besar, dan singkat. Sementara sidat ini butuh enam bulan, dan bukan hanya investasinya tapi juga harus benar-benar ahli dalam mengolah, jika coba-coba tanpa mau belajar dulu pasti gagal,” kata anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Sementara di satu sisi, ahli sidat di Indonesia yang sudah bersertifikasi terbilang sangat minim, berbeda dengan ikan lele yang bisa ada di tiap kecamatan sehingga dibutuhkan strategi khusus yakni dengan cara memperbanyak petani binaan di tiap kampung.

Pola yang diterapkan yakni sistem intergasi pertanian dan peternakan yakni bagaimana membangun pertanian terintegrasi, misal, peternak sapi dapat memanfaatkan kotoran sapi untuk ternak cacing, kemudian kotoran cacing untuk pupuk pertanian.

“Setelah mengenal ini, harapannya mereka mau mencoba budidaya sidat,” kata dia.

Saat ini, Yudik juga mengedukasi petani di Kalimatan dan Sulawesi karena di dua pulau ini ada jenis sidat.

Sementara, dari provinsi Aceh, Medan dan Kalimatan juga sudah banyak yang menyuplai ikan sidat.

“Caranya dikirim melalui pesawat kargo dalam kondisi hidup. Nanti ada tim dari pengolahan pabrik yang akan mengambil di Jakarta, ada tekniknya asal jangal lewat 12 jam,” kata dia.

Kepedulian Yudik pada perberdayaan masyarakat sekitar ini pada akhirnya menggugah BNI Syariah untuk mengapresiasinya.

Yudik pun terpilih menjadi duta Mutiara Bangsa Berhasanah bersama 13 orang wirausaha unggul Tanah Air melalui proses seleksi ketat dari 415 kandidat di tahun 2014.

Ia dipandang sebagai sosok inspiratif bagi lingkungannya karena bukan hanya memikirkan diri sendiri tapi juga berupaya memberdayakan masyarakat sekitar.

Semula hanya 30 orang yang menjadi pembudidaya ikan sidat di tahun 2012, tapi kini sudah ada di tiap kabupaten Jateng, bahkan secara keseluruhan ada sekitar 1.000 orang setelah menyebar di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Lantas, menarik untuk disimak ternyata ketertarikan Yudik pada wirausaha tanpa disadari sudah terpupuk semenjak kecil.

“Saat SMP saya sudah berjualan permen dan roti. Barang saya ambil di toko ayah, kemudian setelah selang satu minggu baru dihitung, ini inisatif saya sendiri ketika itu, tidak menyangka bahwa itu adalah cikal bakal karakter wirausaha,” kata dia.

Yudik, sosok wirausaha muda yang patut menjadi contoh. Di tengah kesulitan, ia bukannya menyerah tapi malah terpacu untuk terus berjuang.

Baginya, Indonesia yang memiliki alam berlimpah memberikan kesempatan bagi penghuninya untuk meraih kesuksesan asalkan mau bekerja keras.

Komentar

Share.