Pelajaran …, Jangan Macam-Macam dengan Ahok!

0

AKTUALITAS.com: Presiden Jokowi baru saja mengumumkan reshuffle kabinet jilid dua. Dan salah satu menteri yang harus ‘lengser keprabon’ adalah Rizal Ramli. Tak pelak, dicopotnya Rizal Ramli dari kursi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya RI langsung mengundang reaksi dari berbagai kalangan.

Sikap Rizal yang dikenal suka melawan arus dan tak jarang menimbulkan kegaduhan ini disinyalir menjadi penyebabnya.

Hal terakhir yang dilakukan mantan tokoh pergerakan mahasiswa, ahli ekonomi, dan politisi ini adalah perseteruannya dengan dengan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terkait masalah reklamasi.

Melalui rapat Komite Bersama Reklamasi Teluk Jakarta yang digagasnya, Rizal meminta reklamasi Pulau G dihentikan. Alasannya, reklamasi di Pulau G tersebut sudah menyerobot hak hidup masyarakat di Pantai Utara Jakarta karena mengganggu kabel laut milik PLN dan lalu intas kapal nelayan.

Bisa ditebak, Ahok sebagai si ’empunya gawe’ tak terima dan melawan keputusan sepihak tersebut. Dikabarkan, Ahok langsung melayangkan surat keberatannya ke Jokowi. Dari situlah ‘perang terbuka’ antara Rizal dan Ahok makin meruncing.

Seorang pengamat politik pun menduga, pencopotan Rizal dari struktur kabinet bentukan Jokowi ini, sedikit banyak ada kaitannya dengan perseteruan masalah reklamasi tersebut.

Kalau dirunut ke belakang, ada benarnya juga sinyalemen tersebut. Proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta tersebut tentu juga pernah menjadi ‘obrolan sembari ngopi’ antara Jokowi saat masih berduet dengan Ahok sebagai pucuk pimpinan Pemprov DKI. Keduanya pasti sepakat bahwa reklamasi Teluk Jakarta itu sangat mendesak dan penting direalisasikan demi kemaslahatan umat Jakarta.

Kemudian tiba-tiba dan tanpa basa-basi, Rizal mengeluarkan keputusan yang menohok bahwa proyek reklamasi Pulau G harus dihentikan. Dan kemungkinan, sekali lagi ini kemungkinan, Rizal dianggap tidak sejalan dengan pemikiran Jokowi dalam membangun Jakarta.

Dan seperti semua telah mahfum, pada akhirnya, Rizal, menteri yang dianggap berpihak pada suara rakyat ini pun harus rela berhenti ‘berjibaku’ di kabinet pada ronde-ronde awal dari tiga tahun lebih masa bakti yang seharusnya diselesaikan jika dirinya langgeng di kursi kabinet.

( Sjamsu Dradjad)

Komentar

Share.