Pilkada Oh Pilkada

0

AKTUALITAS.com: Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta baru akan dimulai pada April 2017 mendatang. Namun, nampaknya tensi politik di ‘Tanah Bang Jampang’ ini sudah memulai memanas. Sejumlah sosok digadang-gadang akan maju untuk merebutkan jabatan Presiden Kecil alias Gubernur DKI Jakarta pada 2017 mendatang. Salah satunya adalah Basuki Tjahja Purnama atau Ahok. Nampak dirinya akan kembali bertarung guna mempertahankan kursi Gubernur yang ia dapat dari lungsuran Joko Widodo yang naik pangkat menjadi Presiden.

Selain Ahok, Pengusaha Sandiaga Uno juga dikabarkan akan ikut bertarung, selain dia ada calon perempuan yang dujuluki ‘Wanita Emas’ Hasnaeni, Bekas Mensesneg dan Menkumham Yusril Ihza Mahendra, Eks Menpora Adhyaksa Dault dan musisi plontos dari Dewa 19 Ahmad Dhani. Sebetulnya, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil juga disebut akan maju menantang Ahok, namun yang bersangkutan mengurungkan niatnnya karena punya utang untuk menyelesaikan kepemimpinannya di ibu kota Jawa Barat.

Tulisan ini bukan untuk membahas bakal calon yang akan ikut dalam Pilada DKI Jakarta, tapi mengapa posisi Gubernur DKI begitu sangat prestisius hingga calonnya relatif banyak. Seperti yang sudah disinggung di awal, Gubernur DKI bisa diibaratkan sebagai ‘Presiden Kecil’, seorang gubernur DKI mampu memilih sendiri siapa bawahannya, dalam hal ini kepala daerah di 6 wilayah DKI. Jakarta Barat, Timur, Utara, Selatan, Pusat dan Kepulauan Seribu. Sedangkan di provinsi lain, gubernurnya tidak bisa memilih Wali Kota atau Bupatinya. Kembali lagi kepada rakyat yang harus memilihkan.

Di Jakarta, wilayahnya bersentuhan langsung dengan Pemerintah Pusat (Presiden), Jakarta pusat ekonomi dan wilayah yang infrastrukturnya paling maju bila dibandingakan dengan wilayah lain. Jadi bukan tidak mungkin APBD dan penerimaan pajak di DKI sangat besar, hal ini memungkinkan bagi Gubernur DKI untuk dengan mudah membuat kebijakan yang membutuhkan anggaran besar. Tengok saja Bus Transjakarta, Wajib Sekolah 9 Tahun, Kartu Jakarta Sehas, Bus Sekolah Gratis dan seterusnya. Kebijakan yang notabenenya populis dan desenangi masyarakat.

Jadi wajar saja bila banyak pihak tertarik untuk duduk di kursi seorang Gubernur DKI. Bahkan warga yang non DKI pun ikut terpanggil untuk menjagokan calonnya untuk duduk sebagai gubernur. Di jagat internet contohnya, banyak warga yang bukan orang Jakarta ikut-ikutan membicarakan Pilgub yang tahun depan baru dimulai ini, padahal mereka tidak punya hak pilih nantinya.

Kesadaran politik tinggi atau kebelinger? terserah Anda menilai namun ini fakta di lapangan. Intinya daya magnet Pilgub DKI sangat kuat terasa. Semua pihak baik proletarian, borjuis, priyayi bahkan prominance seakan tidak hidup jika tidak ikut berkecimpung atau minimal ikut membicarakan pertarungan yang akan dimulai pada trimester kedua 2017 ini.(Azairus Adlu)

Komentar

Share.