Pilkada yang Bising dan Rakyat yang Pintar

0

AKTUALITAS.com:  Mbak Mega terusik. Meski jagoannya masih berpeluang menang di Pilkada DKI, Mbak Mega tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Gara-garanya, anak asuhnya tak bisa menang mutlak sesuai prediksinya. Kemenangan dengan selisih suara tipis itu mengharuskan pasangan petahana kembali bertarung di masa perpanjangan waktu.

Mbak Mega sadar betul bahwa itu adalah pe-er yang tak mudah bagi kubunya. Dia pun merasa perlu mendatangi relawan untuk ‘wanti-wanti’ agar mereka bekerja lebih keras lagi di putaran kedua.

Peta pertarungan pasti akan semakin berat, apalagi sang petahana sudah tak mungkin berkelit dari kasus yang membelitnya. Untuk masalah ini, biarlah hakim yang memutuskan ganjaran apa yang pantas diterima Ahok atas blunder konyol yang dilakukannya. Siapa suruh main api.

‘Satu-nol’ untuk kubu lawan.

Namun dalam situasi sulit itu, Mbak Mega masih sedikit tertolong dengan reuni Pak Jokowi dan SBY. Beberapa hari usai acara ‘ngeteh’ bersama dan jabat tangan perdamaian itu, Demokrat mengatakan bahwa bagi pihaknya, pertarungan sudah selesai. Tak ada keberpihakan ke salah satu pasangan yang masih bertarung, begitu katanya. Itu artinya, rival berkurang.

Sekarang, kedudukan pun menjadi sama kuat, ‘satu-satu’.

Tapi sudahlah, itu urusan lobi-lobi tingkat dewa yang kita semua tak pernah tahu ‘isi hati’ yang sebenarnya. Yang menarik untuk disimak saat ini adalah, pelajaran apa yang bisa dipetik dari ingar-bingar Pilkada DKI ini?

Masyarakat jadi semakin ‘ngeh’ bahwa dunia politik dengan segala intriknya tak sesederhana yang dibayangkan. Harga demokrasi ternyata sangat mahal karena harus ditebus dengan hiruk pikuk perpecahan di segala level, baik di dunia maya, apalagi dunia nyata. Dan kita semua tak bisa menafikannya karena gejala itu sedang dan akan terus terjadi.

Kritik masyarakat terkait program DP rumah Rp 0 atau 0% atau apalah namanya, bisa dijadikan contoh. Sebuah program yang di satu sisi membuai warga DKI, tapi di sisi lain juga mengundang tanya. Ada yang mendukung, tapi sebagian dari mereka juga ‘belajar berhitung’. Singkatnya, masyarakat bisa menilai itu program yang nyata atau hanya retorika belaka.

Mulai kritisnya masyarakat terhadap ‘janji’ pasangan calon merupakan salah satu contoh konkret dari semakin meningkatnya kecakapan masyarakat dalam berpolitik. Dan proses belajar itu bisa dilihat kemajuannya setelah pasangan nomor 1 gugur: Program yang menjanjikan uang tak bisa lagi diandalkan.

Hal menarik lain yang mengemuka adalah isu keagamaan yang kemudian dibawa ke dalam pusaran pertarungan politik. Kita ambil contoh misalnya, polemik surat Al Maidah. Dari kasus ini, masyarakat -baca umat Islam- akhirnya mau ‘membaca’ Alquran sehingga tidak terjerumus dalam ‘taklid buta’ atau hanya meniru (menuruti) paham dan sebagainya tanpa mengetahui dasar, hukum, bukti, atau alasannya.

Memang ada pro-kontra di sana, tapi sekali lagi, minimal umat Islam belajar dan akhirnya mengambil sikap dengan apa yang diyakininya.

Sementara dari isu penolakan pengurusan jenazah, masyarakat menjadi tahu bahwa mengurus jenazah sesama muslim itu wajib, dan hukumnya adalah fardu kifayah, artinya bila kewajiban itu sudah dilakukan oleh satu orang muslim maka kewajiban umat muslim yang lain menjadi gugur.

Jadi, dari sisi ini, kemauan belajar agama itulah hikmah positif yang muncul dari polemik pilkada.

Ada baiknya, kita menyimak pernyataan Pak Said Aqil, tokoh PBNU yang mengatakan, “Masalah politik jangan dicampuradukkan dengan agama. Allah jangan diajak kampanye. Tuhan kok diajak kampanye.”

Dari sinilah masyarakat bisa belajar bahwa alangkah baiknya jika urusan politik dan agama itu tidak tumpang tindih. Masing-masing punya wilayah yang tak bisa selalu disandingkan secara harfiah.

Dan untuk para elit, jangan bodohi warga hanya demi memburu kuasa. Mereka hanya butuh hidup tenang dan damai, tidak lebih. Jadi, uruslah tetek bengek masalah politik dengan sepak terjang yang beretika dan bermartabat.

Sementara masalah keyakinan dan moral, biarlah itu menjadi urusan kami, warga yang nanti harus kalian sejahterakan lahir dan batinnya.

(SAMSU)

Komentar

Share.