Please Hok, Jangan Kau Lukai Lagi Umat Muslim

0

AKTUALITAS.com: Sekali lagi, mata kita -para penonton setia panggung republik ini- dibuat nanar oleh sebuah suguhan yang mengusik nurani. Tontonan yang kembali menggoreskan luka di hati mayoritas umat di Indonesia. Dan ironisnya, tokoh utamanya masih seperti yang dulu, bahkan sekarang menyeret sekumpulan orang-orang yang ‘maunya’ mengembalikan nama baiknya.

Kalau dulu masalahnya adalah tuduhan menistakan ayat Alquran sebagai kitab suci umat Islam, kini teman kita ini kembali berulah dengan memperlakukan seorang ulama besar umat Islam dengan sikap yang tidak semestinya dan terbilang ‘sembrono’.

Dan gara-gara ulah tak simpatiknya itulah, teman kita ini -sebut saja namanya Ahok- kembali harus mempertaruhkan ‘karirnya’ yang kemarin nyaris terjun bebas. Sungguh sangat disayangkan, Ahok ternyata tak pintar mengontrol emosinya saat berada dalam tekanan yang bertubi-tubi menghampirinya.

Ketika tuduhan penistaan agama padanya sudah mulai mereda dan orang pun pelan-pelan percaya bahwa dia tak berniat melakukannya, dia tidak belajar untuk lebih bijak, tapi malah kembali menyulutkan api.

Mungkin, teman kita ini merasa di atas angin dan yakin kesalahannya yang lalu sudah dilupakan, apalagi orang di sekelilingnya selalu bilang bahwa dukungan terhadapnya terus bertambah sejak kasus penistaan itu bergulir hingga kini.

Lalu, demi memuaskan keyakinannya bahwa dirinya tak bersalah, dia pun menyerang dengan kesumat yang membabi buta kepada orang-orang yang dia anggap ingin memenjarakannya.

Maka pas sekali pepatah Jawa ini bahwa ‘watuk iso diobati, tapi nek watak digowo mati‘, (Sakit batuk bisa diobati, tapi kalau watak akan dibawa sampai mati). Begitulah, memang tak semudah membalikkan tangan untuk mengubah karakter seseorang yang sudah jadi bawaan orok.

Sudah demikian akutkah degradasi nilai-nilai penghormatan pada sosok yang dituakan dan dihormati di negeri kita? Kau bilang kita berteman, tapi kenapa sekali lagi kau lukai hati kawan muslimmu, Hok?

Karena kecerdasan seseorang tak hanya dinilai dari bagaimana dia mampu bersilat lidah, tapi juga kesalehannya dalam bertutur kata dan memperlakukan orang yang memang layak dihormati.

(SAMSU/KRICOM)

Komentar

Share.