Polri Ragukan Omongan Haris Azhar

0
AKTUALITAS.com: Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, Polri sulit mempercayai pengakuan dari Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar terkait pengakuan dari Freddy Budiman yang menyebutkan telah menyuap ratusan miliar rupiah kepada oknum Polri dan BNN. Pasalnya, terpidana mati kasus narkoba tersebut sudah dieksekusi mati oleh Kejaksaan Agung.
“Kami harus realistis dong, karena Freddy sendiri sudah mati. Tidak ada dan tidak mungkin didengar keterangannya untuk dikonfirmasi benarkah saudara berbicara itu kepada Haris,” kata Boy kepada wartawan di Mabes Polri, Senin(1/8/2016).
Kalaupun benar, Boy menerangkan, oknum yang dituduhkan tersebut sulit untuk dijerat, karena yang bersangkutan yaitu Freddy telah tewas.
“Prinsipnya dalam hukum itu, kalau tidak ada enggak boleh mengada-ada. Itu namanya proporsional objektif, berdasarkan hukum yang ada,” ungkap Boy.
Menurut Boy, dirinya telah bertemu dengan Haris Azhar pada, sabtu(30/7).Pertemuan itu, atas perintah Kapolri Jenderal  Tito Karnavian.namun, dalam pertemuan tersebut, Haris Azhar tidak menyebutkan nama-nama oknum Polri dan BNN yang dituduhkan Freddy telah menerima suap.
“Padahal ini sudah dua tahun lalu katanya. Yang jadi pertanyaan, kenapa juga disimpan sudah dua tahun?” pungkas mantan Kapolda Banten ini.
Sebelumnya, Haris Azhar mendapatkan kesaksian dari Freddy Budiman terkait adanya keterlibatan oknum pejabat Badan Narkotika Nasional, Polri, dan Bea Cukai dalam peredaran narkoba yang dilakukannya.
Kesaksian Freddy, menurut Haris, didapat pada masa kesibukan memberikan pendidikan HAM kepada masyarakat pada masa kampanye Pilpres 2014.
Menurut Haris, Freddy bercerita bahwa ia hanyalah sebagai operator penyelundupan narkoba skala besar. Saat hendak mengimpor narkoba, Freddy menghubungi berbagai pihak untuk mengatur kedatangan narkoba dari China.
“Kalau saya mau selundupkan narkoba, saya acarain (atur) itu. Saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai, dan orang yang saya hubungi itu semuanya titip harga,” kata Haris mengulangi cerita Freddy.
Freddy bercerita kepada Haris, harga narkoba yang dibeli dari China seharga Rp 5.000. Sehingga, ia tidak menolak jika ada yang menitipkan harga atau mengambil keuntungan penjualan Freddy.
Oknum aparat disebut meminta keuntungan kepada Freddy dari Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per butir.
(Sapuji)

Komentar

Share.