Sisakan Sejumlah PR, Hanura Targetkan Tiga Besar di Pemilu 2019

0

AKTUALITAS. com – Jelang pemilihan umum 2019, sejumlah partai politik sudah mulai bergegas untuk mempersiapkan diri dalam pesta demokrasi yang digelar lima tahun sekali itu. Tak terkecuali Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Meski sudah berdiri sejak 15 tahun silam, nama besar Hanura nampaknya belum juga dikenal familiar di kalangan muda. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Dewan Pakar Partai Hanura, Ferdinand Nainggolan.

“Hasil riset, politik sekarang tidak seperti dulu lagi. Anak muda hanya kenal Hanura 0,6 persen, dan ini termasuk partai bapak-bapak,” ujar Ferdinand dalam diskusi bertajuk ‘Membaca Peluang dan Tantangan Partai Hanura Menjadi Partai Papan atas dalam kontestasi pemilu 2019’ di kantor DPP Partai Hanura, Gedung The City Tower lt 18, Jakarta Pusat, Kamis (19/10/2017).

Nilai tersebut dinilai cukup menjadi PR tersendiri bagi Hanura yang dalam kontestasi pilkada 2019 mematok tiga besar dari keseluruhan partai peserta pemilu.

“Jika ingin menjadi partai besar dan masuk tiga besar dalam Pemilu 2019 nanti, maka suara dari kalangan pemuda ini harus diraih. Hanura harus merebut ini,” tegasnya.

Di sisi lain, Pengamat Politik Hanta Yudha memaparkan ada beberapa hal yang harus dilakukan Hanura agar target tiga besar bisa tercapai.

Salah satunya yakni faktor kekuatan branding. Hanta menilai, jika Hanura mampu menjelaskan kepada publik, bukan tidak mungkin target partai naungan Oesman Sapta Odang ini mampu menjadi tiga besar.

“Publik harus tahu Hanura itu apa? Karena suka tidak suka, politik elektoral adalah persepsi publik,” terangnya dalam kesempatan yang sama.

Selain itu, beberapa PR lain yang harus dilakukan Hanura diantaranya soal data, pemaksimalan mesin politik, strategi dan selera publik.

Sebagai partai besar, Hanura dituntut untuk mengetahui selera politik dari tiap-tiap daerah di seluruh provinsi di Indonesia.

“Jangan dipukul rata. Tiap daerah memiliki pola pendekatan yang berbeda-beda. Jakarta bisa menggunakan media digital, tetapi di Papua? Tentu akan berbeda cara,” lanjutnya.

“Oleh karenanya, maksimalkan mesin politik. Baik dari struktur partai di dapil-dapil, basis ibu rumah tangga. Dan tentu yang tak kalah utama adalah logistik, gunakan posko-posko untuk dijadikan ruang pengaduan bagi masyarakat, kita serap aspirasi rakyat. Bila perlu buka 24 jam,” tandasnya.

(DIK)

Komentar

Share.