Sugondo Djoyopuspito, Pahlawan Indonesia Yang Terlupakan

0

sugondo-Djojopuspito-sumpah-pemudaAKTUALITAS.com : Sugondo Djojopuspito merupakan ketua kongres sumpah pemuda ke II yang dikenal dengan semboyannya Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa: Indonesia. Di bawah kepemimpinannya pula kongres pemuda ke II tersebut melahirkan sebuah ikrar yang dikenal hingga kini, “sumpah pemuda.”

Jasa Pria kelahiran Tuban 22 Febuari 1905 itu bagi Indonesia serta untuk persatuan bangsa hingga kini masih bisa dirasakan dampaknya. Namun, namanya tersebut mungkin kini mulai pudar di tengah gegap gempita moderenisasi.

Anak seorang Mantri Juru Tulis Desa di kota Tuban  ini juga aktif berjuang di ranah pendidikan. Bersama Sunario Sastrowardoyo, dia mendirikan sekolah Perguruan Rakyat dan diangkat sebagai Kepala Sekolah. Sepak terjang Sugondo kemudian dilirik oleh Ki Hadjar Dewantara dan pada tahun 1932 Sugondo diangkat menjadi Kepala Sekolah Perguruan Tamansiswa Bandung.

Di samping kegiatannya di dunia pendidikan, Sugondo juga aktif di berbagai kegiatan partai politik. Di sela kesibukannya mengurus Tamansiswa Bandung, Sugondo juga aktif sebagai simpatisan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) pimpinan Soekarno.

Karir Sugondo terus menanjak di era revolusi (1945-1950). Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Sugondo diberi kepercayaan oleh kabinet Halim sebagai Menteri Pembangunan Masyarakat. Meski banyak mendapat apresiasi atas kinerjanya, namun Sugondo memutuskan untuk pensiun dini di usia 46 tahun.

Sugondo wafat pada tahun 1978. Dia dikebumikan di Pemakamam Keluarga Besar Tamansiswa. Taman Wijayabrata di Celeban, Umbulharjo – Yogyakarta. Meski telah banyak berkontribusi terhadap persatuan dan kesatuan bangsa, juga dunia pendidikan nasional, namun gelar pahlawan nasional tak kunjung jua disematkan kepadanya.

Latar Belakang Pendidikan

Sugondo Djojopuspito pernah mengijak pendidikan HIS (Sekolah Dasar 7 tahun) tahun 1911-1918 di Tuban. Tahun 1919 pindah ke Surabaya untuk meneruskan ke MULO (Sekolah Lanjutan Pertama 3 tahun) tahun 1919-1921. Selama di Surabaya tinggal bersama Soekarno di rumah HOS Cokroaminoto. Setelah lulus tahun 1922, melanjutkan sekolah ke AMS afdeling B (Sekolah Menengah Atas bagian B – paspal – 3 tahun) di Yogyakarta tahun 1922-1924.

Setelah lulus AMS tahun 1925 melanjutkan kuliah ke Batavia (Jakarta) pada RHS (Rechts Hooge School – didirikan tahun 1924 – Sekolah Tinggi Hukum – Fakultas Hukum Universitas Indonesia sekarang). Kuliah di RHS mencapai tingkat P (propadeus – sekarang D2)

Komentar

Share.